Tari Perut, Hilangkan Sakit Vertigo

tari perut

Umi Farida (41) menderita gangguan pencernaan bertahun-tahun. Bahkan, gangguan pencernaan yanh diderita warga Sidoarjo ini sampai membuatnya mengalami vertigo. Namun, semua penyakitnya hilang setelah Umi mempelajari bellydance (tari perut) bersama Woman Dance Community Surabaya (WDCS) setahun lalu.

Musik bernuansa Timur Tengah (Timteng) mengalun keras di Clark Hatch Garden Palace Hotel Surabaya, Minggu (17/8/2014). Sebanyak 10 orang penari bellydance bergerak lincah dinamis mengikuti ketukan alat perkusi pukul yang bermain rancak. Umi salah satunya. Gerakannya seperti meliuk-liuk, terutama di bagian perutnya.

Umi mengaku memiliki gangguan pencernaan akut. Tidak hanya maag, usus Umi pun didiagnosa dokter sudah mengalami peradangan.

“Saya sebenarnya suka senam aerobik. Tapi selalu absen kalau vertigo saya kumat. Dunia serasa berputar-putar. Tapi bellydance ini malah menyembuhkan gangguan pencernaan saya,” kata Umi di sela-sela latihan.

Umi kemudian mencontohkan gerakan-gerakan dasar bellydance, seperti undulation (perut dibuat seperti bergelombang dari bawah ke atas) dan wave (gerakan perut dan panggul yang membentuk gerakan kurva setengah lingkaran).

Gerakan-gerakan inilah yang menurut Umi melatih tidak hanya otot-otot perut dan panggul, tapi juga organ-organ pencernaannya.

“Saya juga sudah rontsen, kata dokter usus saya membaik. Jadilah saya semakin menggemari bellydance ini. Bahkan sudah hampir setahun ini sudah tidak vertigo lagi,” ujar Umi yang lanjut mengatakan tiga bulan pertama latihan bellydance sudah merasakan manfaatnya ini.

Ketua WDCS, Willy Filosofia (39), menambahkan gerakan-gerakan tarian asal Timur Tengah (Timteng) ini memang dinamis dan lebih banyak membakar kalori. Menurut Willy, setidaknya 1.000 kalori bisa terbakar dengan menari bellydance selama dua jam.

“Selain membakar kalori juga menguatkan otot-otot, terutama otot-otot kewanitaan,” tandas Willy.
Komunitas ini berjumlah 43 orang. Tidak hanya perempuan, ada juga anggota bellydance laki-laki. Komunitas yang berdiri 2013 silam ini selalu latihan di Garden Palace.
Willy menuturkan awal terbentuknya komunitas ini karena kesamaan hobi beberapa anggota saja.

“Tapi lambat laun, kami banyak menerima pesanan menari di acara-acara kota. Malah bisa nambah penghasilan. Hobi juga tersalurkan,” ucapnya.
Willy menegaskan kelompoknya selalu berpakaian sopan ketika tampil di sebuah acara. Kostum untuk tarian didesain agar tidak mempertunjukan pusar.

“Bagi sebagian orang, tarian ini terkesan vulgar, terutama dari kostumnya yang memperlihatkan pusar. Untuk menyiasatinya kami membuat kostum yang menutupi bagian tubuh,” ujar Willy. [Sumber : tribunnews.com]

Facebook Comments